Jumat, 30 Desember 2011

Distosia Kelainan Alat Kandungan


Pengertian Distosia Alat Kandungan
Pengertian Distosia
Yang dimaksud dengan distosia adalah persalinan yang sulit yang ditandai adanya hambatan kemajuan dalam persalinan. Persalinan yang normal (Eutocia) ialah persalinan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung spontan dalam 24 jam, tanpa menimbulkan kerusakan yang berlebih.
Istilah distosia atau persalinan yang sulit kita pergunakan kalau tidak ada kemajuan dari persalinan.
Distosia Alat Kandungan
Distosia alat kandungan adalah istilah yang digunakan pada kasus tidak adanya kemajuan persalinan atau gangguan dalam proses persalinan yang disebabkan oleh adanya kelainan pada alat kandungan. Alat kandungan yang akan dibahas yaitu vulva, vagina, portio dan uterus.

Macam – Macam Alat Kandungan
1. VULVA
Vulva termasuk dalam bagian alat kandungan luar. Terdiri dari Labia mayora, labia minora, orifisium uretra externa, introitus vagina , klitoris, perineum dan anus.
Labia Mayora
Bentuknya lonjong. Kedua bibir ini dibagian bawah bertemu membentuk perineum. Permukaannya terdiri dari bagian liar dan bagian dalam. Bagian luar tertutup rambut yang merupakan kelanjutan dari mons veneris. Bagian dalam tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak).
Labia Minora
Berada di dalam lipatan L.mayora, tanpa rambut. Dibagian atas klitoris, L.minora bertemu membentuk prepusium klitoris dan di bagian bawahnya bertemu membentuk frenulum klitoris. L.minora mengelilingi orifisium vagina.
Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi yang bersifat erektil. Mengandung banyak pembuluh darah dan serrat sarraf sensoris sehingga sangat sensitive dan merupakan analog dari penis laki-laki.
Vestibulum
Alat reproduksi yang dibatasi oleh kedua L.minora, bagian atas klitoris, bagian bawah pertemuan L.minora. pada vestibulum terdapat muara urethra, 2 lubang saluran kelenjar bartholini, 2 lubang saluran kelenjar skene.
Kelenjar bartholini
Kelenjar ini dapat mengeluarkan lendir, dan pengeluaran lendir meningkat saat hubungan seks.
Hymen
Jaringan yang menutupi vagina, bersifat rapuh dan mudah robek. Hymen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang dikeluarkan uterus dan darah saat menstruasi. Bila hymen tertutup akan menimbulkan gejala klinik setelah mendapat menstruasi.
2. VAGINA
Saluran yang menghubungkan vulva dengan uterus. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari mukulus sfingterani dan muskulus levatorani, sehingga dapat dikendalikan. Vagina terletak diantara kandung kemuh dan rectum. Panjang bagian depannya sekitar 9cm, dan belakangnya 11cm. pada dinding terdapat lipatan-lipatan yang disebut ruggae dan terutama di bagian bawah. Pada puncak vagina terdapat bagian menonjol ke dalam vagina disebut portio. PH vagina sekitar 4,5 yang bersifat asam, keasaman vagina memberikan proteksi terhadap kuman. Fungsi utamanya adalah untuk mengeluarkan lendir uterus dan darah menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan.
3. UTERUS/PORTIO
Merupakan jaringan otot yang kuat, terletak di pelvis minor diantara kandung kemih dan rectum. Dinding depan, belakang dan atas tertutup peritoneum, sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih. Bentuknya seperti bola lampu dan gepeng. Untuk menyangga posisinya uterus disangga beberapa ligament jaringan ikat dan parametrium. Ukurannya tergantung dai usia wanita dan paritas. Ukuran anak-anak 2-3cm, nulipara 6-8cm, multipara 8-9cm. dindingnya terdiri dari 3 lapisan; peritoneum, lapisan otot dan endometrium.

Kelainan Alat Kandungan dan Penanganannya
1. Kelainan Pada Vulva
Kelainan bawaan
Atresia vulva dalam bentuk atresia himenalis yang menyebabkan hematokolpos, hematometra dan atresia vagina dapat menghalangi konsepsi yang berakibat pada kemandulan. Kelainan vagina yang cukup sering dijumpai dalam kehamilan dan persalinan adalah septum vagina terutama vertika longitudinal.
Septum yang lengkap sangat jarang menyebabkan distosia karena separoh vagina yang harus dilewati oleh janin biasanya cukup melebar sewaktu kepala lahir. Akan tetapi septum yang tidak lengkap kadang kadang menghambat turunnya kepala.
Struktur vagina yang kongenital biasanya tidak menghalngi turunnya kepala, akan tetapi yang disebabkan oleh parut akibat perlukaan dapat menyebabkan distosia.

2. Kelainan Pada Vagina
Pada vagina dapat terjadi  atresia vagina, adanya sekat vagina, dan kista vagina. Pada atresia vagina terdapat gangguan dalam kanalisasi, sehingga terbentuk suatu septum yang horizontal. Septum itu dapat ditemukan pada bagian proksimal vagina, akan tetapi bisa juga pada bagian bawah, diatas hymen (atresia retrohimenalis). Bila penutupan vagina itu menyeluruh, menstruasi timbul tetapi darah haid tidak keluar. Terjadilah hematokolpos yang dapat mengakibatkan hematometra dan hematosalpinks. Bila penutupan vagina tidak menyeluruh, tidak akan timbul kesulitan, kecuali mungkin pada partus kala dua.
Kista vagina sebagian besar dijumpai secara kehetulan. Kista vagina berasal dari sisa duktus Gartner atau duktus Muller. Pada kista vagina yang tidak terlalu besar tidak memerlukan pengobatan dan dapat dibiarkan serta tidak akan mengganggu kehidupan rumah tangga. Bila pada saat persalinan terjadi gangguan penurunan bagian terendah karena kista vagina, kista tersebut dapat dipungsi sehingga cairannya keluar dan selanjutnya memperlancar proses persalinannya.
3. Kelainan pada uterus
Secara embriologis uterus, vagina, servik dibentuk dari kedua duktus muller yang dalam pertumbuhan mudigah mengalami proses penyatuan. Kelaina bawaan dapat terjadi akibat gangguan dalam penyatuan, dalam berkembangnya kedua saluaran muller dan dalam kanalisasi.
Uterus didelfis atau uterus duplek terjadi apabila kedua saluaran muller berkembang sendiri-sendiri tanpa penyatuan sedikitpun sehingga terdapat 2 saluran telur, 2 servik dan 2 vagina.
Uterus subseptus terdiri atas 1 korpus uteri dengan septum yang tidak lengkap, 1 servik, 1 vagina cavum uteri kanan dan kiri terpisah secara tidak lengkap.
Uterus arkuatus hanya mempunyai cekungan di fundus uteri, kelainan ini paling ringan dan sering dijumpai. Uterus bikornis unilateral rudimentarius terdiri atas 1 uterus dan disampingnya terdapat tanduk lain. Uterus unikornis terdiri atas 1 uterus, 1 servik yang berkembang dari satu saluran kanan dan kiri. Kelainan ini dapat menyebabkan abortus, kehamilan ektopik dan kelainan letak janin.

Kelainan letak uterus
Anteversio uteri
Kelainan letak pada uterus ke depan dijumpai pada perut gantung. Perut gantung terdapat pada multipara karena melemahnya dinding perut, terutama multipara gemuk, hal ini menghalangi masuknya kepala ke dalam panggul, pembukaan tidak lancar. Dalam persalinan tidur telentang, setiap ada his fundus dorong ke atas.

Retrofleksio uteri
Kadang kadang menyebabkan kemandulan karena kedua tuba tertekuk. Uterus gravidus yang bertumbuh terus bisa terkurung dalam rongga panggul disebut retrofleksio uteri gravidi inkarserata. Nasib kehamilan pada retrofleksio uteri dapat koreksi spontan, abortus, koreksi tidak lengkap, inkrserasi

Tumor uterus
Mioma uteri
Pengaruh mioma pada kehamilan dan persalinan
1.      Mengurangi kemungkinan hamil
2.      Kemungkinan abortus bertambah
3.      Kelainan letak janin dalam rahim
4.      Menghalangi jalan lahir
5.      Inersia uteri dan atonia uteri
6.      Sulit lepasnya plasenta

Pengaruh kehamilan dan persalinan pada mioma :
1.      Tumor tumbuh lebih cepat akibat hipertensi dan edema terutama dalam bulan-bulan pertama, mungkin karena pengaruh hormonal.
2.      Tumor menjadi lebih lunak, dapat berubah bentuk dan mudah terjadi gangguan sirkulasi didalamnya. Tumor tampak merah disebut degenerasi merah atau tampak seperti daging disebut degenerasi daging
3.      Torsi pada mioma subserosum yang bertangkai.Torsi ini dapat menyebabkan nekrosis dengan gambaran akut abdomen.


Penanganan
Pada umumnya tidak dilakukan operasi untuk mengangkat mioma. Bila degenerasi merah maka diambil sikap koservatif dengan istirahat baring dan kontrol yang ketat. Bila mioma menghalangi jalan lahir harus dilakukan SC. Pengangkatan secepat-cepatnya setelah 3 bulan postpartum .

Karsinoma servisis uteri
Kanker leher rahim mempunyai pengaruh tidak baik terhadap kehamilan, persalinan dan nifas. Selain kemandulan, abortus, perdarahan, hambatan pertumbuhan janin. Apabila penyakit ini tidak diobati pada kira-kira 2/3 diantara penderita kehamilan dapat mencapai cukup bulan. Kematian janin dapat juga terjadi.
Pada trisemester I penderita harus segera diobati baik dengan penyinaran maupun operasi radikal. Pengaobatan dengan sinar rontgen sebanyak 2000 rad kepada pelvis menyebabkan hasil konsepsi mati dengan akibat abortus.
Pada trisemester II harus segera dilakukan histerotomi untuk mengosongkan rahim disusul dengan penyinaran dan operasi radikal. Trisemester III untuk kehamilan yang lebih 36 mg atau lebih segera melakukan seksio sesarea, bila kurang 36 minggu sedapat dapatnya ditunda sampai janin ditaksir 2500 gram. Penundaan 1 atau 2 minggu masih dianggap aman.

Karsinoma korporis uteri
Hampir tidak memungkinkan hamil. Oleh karena itu kombinasi tumor ini dengan kehamilan jarang. Terapi dalam kehamilan sama seperti yang tidak hamil yaitu histerektomi dengan atau tanpa penyinaran sebelum atau sesudahnya.

ADNEKSA
Tuba
Telah diketahui bersama bahwa patensi tuba mutlak untuk pembuahan. Kelainan pada tuba seperti peradangan atau tumor hampir tidak memungkinkan hamil. Apabila terjadi kehamilan juga akan menghasilkan kehamilan luar uterus, yang biasanya terganggu pada kehamilan muda.


Ovarium
Tumor ovarium baik kecil maupun besar, kistik atau padat, jinak atau ganas mempunyai arti obstetrik yang lebih penting daripada tumor tumor lain. Dalam kehamilan tumor ovarium jarang dijumpai, yang paling sering kista dermoid.
Komplikasi yang paling sering dan berbahaya adalah torsi yang menyebabkan nekrosis jaringan dan infeksi dengan gejala gejala sakit perut mendadak. Kista dapat pecah karena trauma dan pengakhiran persalinan. Pada masa nifas juga berbahaya karena pengecilan rahim memperbesar kemungkinan torsi.

Penanganan
Dalam kehamilan tumor ovarium yang lebih besar telor angsa harus dikeluarkan karena:
1.      Kemungkinan keganasan
2.      Kemungkinan torsi
3.      Kemungkinan menimbulkan komplikasi obstetrik yang gawat
Triwulan pertama, pengangkatan tumor sebaiknya ditunda sampai 16 minggu. Operasi paling baik antara 16-20 mg. Operasi pada kehamilan muda dapat disusul oleh abortus apabila korpus luteum graviditatis yang menghasilkan prosgesteron ikut terangkat. Pada kehamilan lebih 16 minggu plasenta sudah terbentuk sehingga fungsi corpus luteum diambil alih plasenta dan produksi progesteron berlangsung terus, pada kehamilan > 20 mg teknik lebih sulit sehingga rangsangan mekanis pada uterus sulit dihindarkan sehingga dapat terjadi partus prematurus.
Bila tumor diketahui pada kehamilan tua dan tidak menyebabkan penyulit obstetrik atau gejala gejala akut , atau tidak mencurigakan akan mengganas dapat ditunggu partus spontan. Operasi dapat dilakukan dalam masa nifas. Lain halnya dengan tumor yang dianggap ganas atau yang disertai gejala-gejala akut. Dalam hal ini operasi harus segera dilakukan tanpa menghiraukan usia kehamilan.

PROLAPSUS UTERI
Prolapsus uteri adalah keadaan dimana turunnya uterus melalui hiatus genitalis yang disebabkan kelemahan ligamen-ligamen, fasia endopelvik danotot dasar panggul yang menyokong uterus.
Turunya uterus dari tempat biasa disebut desensus uteri atau prolap uteri. Terbagi dalam 3 tingkat:
1.         Tingkat 1 bila servik belum keluar dari vulva
2.         Tingkat 2 bila servik sudah keluar vulva tapi corpus belum
3.         Tingkat 3 bila korpus uteri sudah berada di luar vulva
Kehamilan dapat terjadi pada prolaps tk 1 dan 2

Uterus dan vagina dipertahankan posisinya oleh :
1. Tonus otot uterus
2. Ligamen-ligamen yang memfiksasi uterus
· Lig kardinale
· Lig rotundum
· Lig infundibulopelvikum
· Lig sakrouterina
3. Fasia endopelvik
4. Otot-otot dasar panggul m levator ani

Etiologi Prolapsus Uteri :
1) Dasar panggul yang lemah, karena kerusakan dasar panggul pada persalinan yang terlampau sering dengan penyulit seperti ruptura perineum atau oleh karena usia lanjut.
2) Tarikan pada janin pada pembukaan yang belum lengkap.
3) Ekspresi Crede yang berlebihan pada saat mengeluarkan plasenta.
4) Asites, tumor-tumor di daerah pelvis, batuk yang kronis dan pengejan (obslipasi atau striktura pada traktus urinarius).
5) Relinakulum uteri yang lemah (asteni atau kelainan congenital berupa kelemahan jaringan penyokong uterus yang sering pada nullipara.

Patologi Prolapsus Genitalis
1.      Dengan adanya persalinan yang sulit, menyebabkan kelemahan pada ligamentum-ligamentum, fasia endopelvik, otot-otot dan fasia dasar panggul ok peningkatan tekanan intra abdominal dan faktor usia.
2.      Karena servis uteri terletak diluar vagina akan menggeser celana dalam dan menjadi ulkus dekubitus.
3.      Dapat menjadi SISTOKEL karena kendornya fasia dinding depan vagina (mis : trauma obstetrik) sehingga vesika urinaria terdorong ke belakang dan dinding depan vagian terdorong ke belakang.
4.      Dapat terjadi URETROKEL, karena uretra ikut dalam penurunan tersebut. Harus di DD/dengan Difertikulum Uretra, pada Difertikulum Uretra, uretra dan vesika urinaria normal saja, hanya di belakang uretra ada lobang yang menuju ke kantong antara uretra dan vagina.
5.      Dapat terjadi REKTOKEL, karena kelemahan fasia di dinding belakang vagina, ok trauma obstetric atau lainnya, sehingga rekrum turun ke depan dan menyebabkan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan.
6.      Dapat terjadi ENTEROKEL, karena suatu hemia dari kavum dauglasi yang isinya usus halus atau sigmoid dan dinding vagina atas belakang menonjol ke depan.
7.      Sistokel, uretrokel, rektokel, enterokel dan kolpokel disebut prolaps vagina.
8.      Prolaps uteri sering diikuti prolaps vagina, tetapi prolaps vagina dapat berdiri sendiri.

Gejala Klinis Prolapsus Uteri
Sangat individual dan berbeda-beda, kadang-kadang prolapsus uterinya cukup berat tapi keluhannya (-) dan sebaliknya. Prolapsus uteri dapat mendadak seperti nyeri, muntah, kolaps dll (jarang). Keluhan-keluhannnya adalah :
· Terasa ada yang mengganjal/menonjol digenitalia ekstema (vagina atau perasaan berat pada perut bagian bawah).
· Riwayat nyeri dipinggang dan panggul yang berkurang atau hilang dengan berbaring.

Komplikasi Prolapsus Uteri :
1) Keratinisasi mukosa vagina dan portio uteri
2) Dekubitus
3) Hipertropi serviks uteri dan elongasioa koli
4) Gangguan miksi dan stress inkontinensia
5) Infeksi saluran kencing
6) Infertilitas
7) Gangguan partus
8) Hemoroid
9) Inkarserasi usus
Penanganan Prolapsus Uteri
Penanganan dibagi atas :
I. Pencegahan
Faktor-faktor yang mempermudah prolapsus uteri dan dengan anjuran :
a.       Istirahat yang cukup, hindari kerja yang berat dan melelahkan gizi cukup
b.      Pimpin yang benar waktu persalinan, seperti :
(1).    Tidak mengedan sebelum waktunya
(2).    Kala II jangan terlalu lama
(3).    Kandung kemih kosongkan)
(4).    episiotomi agar dijahit dengan baik
(5).    Episiolomi jika ada indikasi
(6).    Bantu kala II dengan FE atau VE

II. Pengobatan
A. Pengobatan Tanpa Operasi
· Tidak memuaskan dan hanya bersifat sementara
· pada prolapsus uteri ringan
· ingin punya anak lagi
· menolak untuk dioperasi
· Keadaan umum pasien tak mengizinkan untuk dioperasi
· Caranya :
·         Latihan otot dasar panggul
·         Stimulasi otot dasar panggul dengan alat listrik
·         Pemasangan pesarium

B. Pengobatan dengan Operasi
1. Operasi Manchester/Manchester-Fothergill
2. Histeraktomi vaginal
3. Kolpoklelsis (operasi Neugebauer-La fort)
4. Operasi-operasi lainnya :
· Ventrofiksasi/hlsteropeksi


Interposisi
Jika Prolaps uteri terjadi pada wanita muda yang masih ingin mempertahankan fungsi reproduksinya cara yang terbaik adalah dengan :
1. Pemasangan pesarium
2. Ventrofiksasi (bila tak berhasil dengan pemasangan pesarium)
 
sumber :
Manuaba, Ida Bagus Gde.1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan. Jakarta:EGC
Wiknjosastro, Hanifa.2008.Ilmu Kandungan. Jakarta: Bina Pustaka
Saifuddin, Abdul Bari.2008.Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka
Bagian Obsgyn FK UNPAD.1984.Obstetri Patologis. Bandung: Elstar Offset
http://obstetriginekologi.com/

oleh :
1. Awalia Nur Baeti
2. Risda Nurimanda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar